
Label halal di salah satu produk UMKM. (foto: Yobby/Times Indonesia)
TIMESINDONESIA, KEDIRI – Mewujudkan Kota Kediri sebagai pusat pengembangan dan ekosistem halal, UMKM Kota Kediri yang sebagian besar didominasi makanan dan minuman didorong untuk mendapatkan sertifikasi halal.
Sertifikasi halal dan penempatan label halal pada kemasan sebuah produk terutama makanan dan minuman menjadi salah perlindungan pada konsumen, terutama konsumen muslim agar terhindar dari produk dengan kandungan haram.
Dengan produk UMKM kota Kediri telah tersertifikasi halal, produk-produk tersebut diharapkan memiliki nilai tambah tersendiri, baik itu untuk konsumsi lokal ataupun untuk di ekspor. Pengembangan ekosistem halal UMKM kota Kediri dilakukan melalui pembinaan dan pendampingan oleh sejumlah instansi terkait seperti Pemerintah Kota Kediri, Bank Indonesia perwakilan Kediri, MUI dan juga dari kampus UIN 1 Tulungagung.
"Bank Indonesia akan memberikan pelatihan dan pendampingan serta bekerja sama dengan MUI. Kemudian dari UIN 1 Tulungagung akan melakukan uji lab sekaligus pendampingan halalnya. Sementara dari Pemkot akan memfasilitasi dengan membuat rumah potong hewan maupun rumah potong unggas mendapat sertifikasi halal," kata Kepala KPwBI Kediri M. Choirur Rofiq, usai pembukaan Road to Festival Ekonomi dan Keuangan Syariah (FESYAR) 2022, Sabtu (27/11/2022). Ekosistem halal sendiri adalah bagian tak terpisahkan dari ekonomi syariah.
Dengan kolaborasi ini, nantinya saat tahun 2024 saat sertifikasi halal diwajibkan untuk semua produk makan minuman, UMKM kota Kediri telah melaksanakan hal tersebut.
Kepala Kadin Kota Kediri, Wali Kota Kediri dan Kepala KpwBI Kediri di salah satu booth UMKM. (foto: Yobby/Times Indonesia)
"Sertifikasi halal akan meningkatkan nilai tambah bagi produk-produk makanan minuman yang ada di Kota Kediri. Jadi dengan ada nilai tambah tentunya kita harapkan pertumbuhan ekonomi di Kota Kediri meningkat. apalagi tidak lama lagi akan ada bandara baru. Saat ini sudah ada 20 UMKM yang kita dampingi untuk mendapatkan sertifikasi halal self declare," ungkap Choirur Rofiq lagi.
Sementara itu menurut Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar, ekosistem halal di kalangan UMKM diharapkan bisa turut mendukung perkembangan kota Kediri untuk menjadi salah satu destinasi wisata halal.
Wali Kota Kediri menuturkan, konsumen sekarang sudah semakin pintar dan teliti, sehingga sertifikasi atau label halal bisa menjadi penambah daya tawar produk UMKM kota Kediri.
"Jadi kita sebenarnya mau menuju, bisa dibilang destinasi wisata halal juga. Nanti ketika orang melihat produk-produk UMKM kota Kediri, mereka yakin bahwa yang dia beli itu adalah halal. Produk halal itu sudah menjadi keputusan untuk membeli juga. Biasanya orang atau customer akan membandingkan, yang ini halal, yang ini tidak. Ketika orang dapat keyakinan bahwa ini boleh dimakan, ini halal dia akan lebih yakin untuk membeli, " tutur Wali Kota Kediri.
Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. 12,7 persen penduduk muslim dunia ada di Indonesia atau lebih dari 231 juta jiwa. Pada tahun 2020 omset industri halal di Indonesia sebagai konsumen mencapai 184 miliar US dolar. Dari angka tersebut 43 persennya adalah produk makanan dan minuman.