Cerita drh. Pujiono di Tengah Wabah PMK, Disruduk Sapi Hingga Ditolak Peternak saat Proses Vaksinasi

Kediri Dalam Berita | 14/07/2022

logo

Cerita drh. Pujiono di Tengah Wabah PMK, Disruduk Sapi Hingga Ditolak Peternak saat Proses Vaksinasi

- Rabu, 13 Juli 2022 | 21:37 WIB
Drh. Pujiono Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran DKPP Kota Kediri. (Bayu/memo)
X
 
Drh. Pujiono Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran DKPP Kota Kediri. (Bayu/memo)
 

Kediri, koranmemo.com - Semenjak Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) ditemukan di Kota Kediri, kerja dari tim Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri terus bertambah. Mulai merawat sapi peternak yang sakit hingga dalam proses menyalurkan vaksin PMK ke kandang-kandang sapi yang ada di Kota Kediri.

Drh. Pujiono, Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran DKPP Kota Kediri merupakan salah satu petugas yang getol dalam memberikan penanganan terhadap wabah ini. Bahkan dirinya juga yang mengambil langsung vaksin PMK yang diberikan oleh pemerintah pusat di Surabaya.

Sejak kedatangan vaksin untuk PMK, timnya juga langsung berupaya untuk menyalurkan vaksin tersebut kepada sapi-sapi para peternak. Berbeda dengan vaksinasi covid-19 yang penyalurannya bisa dilakukan bersamaan di satu tempat, vaksinasi PMK ini harus dilakukan di kandang masing-masing ternak.

 

Sejak pagi ia bersama timnya sudah berkumpul untuk menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk vaksinasi. Untuk meningkatkan efektivitas, ia bersama timnya membagi dosis vaksin yang awalnya berada dalam satu buah botol ke sejumlah alat suntik.

Alat Pelindung Diri (APD) seperti yang digunakan oleh petugas kesehatan ketika menangani Covid-19 juga turut disiapkan. Hal ini untuk mencegah adanya penularan virus PMK dari satu sapi ke sapi lain, mengingat tingkat penularan dari virus ini juga sangat tinggi.

 

Anggotanya juga dibagi menjadi beberapa tim, sehingga bisa lebih banyak menjangkau sapi yang akan divaksin. Sekitar pukul 08.30 WIB mereka berangkat menuju lokasi dengan menaiki mobil. “Harus memakai APD lengkap, karena kami kan sifatnya dari kandang ke kandang, takutnya, saat memantau sapi yang sehat malah kena virus dari kami sendiri,” ungkap drh. Pujiono.

Untuk tim vaksinasinator yang berangkat, masing-masing terdiri atas vaksinator, petugas penanda, dan petugas pendataan. Identitas pemilik hingga keterangan hewan ternak seperti jenis kelamin, dan usia dicatat dengan rapi.

 

Meskipun sudah bertahun-tahun menangani dan berkecimpung pada hewan terutama sapi. Namun, menangani PMK merupakan pengalaman pertama bagi dokter hewan itu.

Pria yang berdinas di DKPP sejak 2006 itu mengatakan, ada banyak pengalaman yang bisa diambil ketika melakukan vaksinasi PMK ini. Mulai dari medan yang harus ditempuh hingga berburu dengan waktu, karena vaksin yang telah dimasukan dalam alat suntik itu harus segera disalurkan dalam waktu 24 jam.

“Kadang ada peternak yang ketika kami datangi tidak ada, akhirnya kami melanjutkan ke peternak lain, setelah itu harus kembali lagi ke kandang itu lagi,” ujarnya seraya memegang kakinya yang terasa paling capek saat menjalankan tugas ini.

Panasnya terik matahari hingga jalan terjal dan licin ia lalui. Serudukan sapi yang mengamuk saat akan divaksin juga sudah pernah ia rasakan. Semua itu tidak menghambat semangatnya menunaikan tugas menyelamatkan hewan ternak.

 

Ia dan timnya juga tidak luput dari peternak yang menolak hewan ternaknya divaksin. Ini mengharuskannya memberikan pengertian lebih kepada peternak terkait PMK dan vaksin yang akan diberikan. Menurutnya, dalam pemberian vaksin ini juga tidak boleh dipaksakan.

“Benar, ada peternak yang menolak sapinya divaksin PMK. Kami hanya bisa memberikan edukasi dan pemahaman. Kami tidak boleh memaksa,” ungkapnya.

 

Suatu ketika, ketika stok vaksin yang disediakan untuk hari itu habis, maka proses vaksinasi akan dilakukan pada esok hari. Ada peternak dan blantik sapi yang tiba-tiba nelfon petugas dan marah-marah karena hewannya tidak jadi tervaksin.

“Ya ini saya anggap sebagai asiknya sebagai dokter hewan, enjoy saja lah,” kata alumnus Institut Pertanian Bogor ini.

 

Saat ini, sembari menunggu alokasi vaksin tahap kedua didistribusikan, drh. Puji terus memantau kondisi kesehatan sapi yang terkonfirmasi PMK. Baginya, kesembuhan sapi merupakan kepuasan tersendiri bagi satgas PMK. “Semakin dengar ada yang sembuh, semakin kami semangat untuk tangani sapi-sapi yang masih pemulihan ini,” pungkasnya.

Reporter Ahmad Bayu Giandika

Editor Achmad Saichu

 

Tidak ada artikel terkait