Kediri (beritajatim.com) – Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kota Kediri menemukan tujuh ekor sapi diduga terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK). Sapi tersebut dengan gejala mulut berlindir hingga luka pada bagian kaki, juga tidak mau makan.
Hewan piaraan tersebut milik Nuriman alias Gamblong di Jalan Penanggungan No 45 Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
drh. Ilham, selaku petugas Call Center Tanggap PMK di bawah naungan DKPP Kota Kediri mengambil sampel untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium. Hal itu untuk memastikan bahwa sapi tersebut terpapar PMK atau tidak.
“Kronologinya, kemarin ada laporan dari masyarakat, bahwa ada sapi yang sakit pada hari Minggu, langsung ditindak lanjuti. Dari 10 ekor populasi sapi, 7 ekor ada gejala ke arah sana. Akhirnya, kami laporan ke Provinsi Jawa Timur. Nah, hari ini, melalui Laboratorium Malang datang untuk mengambil sampel darah, luka di mulut dan swab,” kata drh. Ilham, Senin (30/5/2022).
Dijelaskan drh. Iham, berdasarkan laporan pemilik, awalnya sapi-sapi tersebut jatuh sakit dan tidak mau makan. Kemudian setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, dari 7 ekor sapi yang bergejala, lima diantaranya mengarah suspek PMK.
“Dari lima ekor sapi itu, tiga dalam kondisi bagus, mau makan. Cuma yang satu agak menurun. Kondisinya, agak susah nggayemi (memamah biak). Satunya lagi lumayan agak menurun, tapi masih mau makan,” jelas drh. Ilham.
Di samping dilakukan pengambilan sampel untuk diuji laboratorium, sapi-sapi yang diduga suspek PMK diberi terapi obat-obatan agar tidak bertambah parah. Selain pemberian suntikan antibiotik, petugas juga memberikan berbagai vitamin dan melakukan penyemprotan kandang ternak menggunakan cairan disinfektan.
“Tiap hari akan kita pantau dan kita lakukan pemeriksaan dan pemberian obat-obatan sebagai terapi. Harapannya 7 – 10 hari bisa membaik. Kita pantau dari Dinas dan itu gratis,” imbuh drh. Iham.
Dalam penanganan kasus ini, DKPP Kota Kediri juga melibatkan kepolisian dari Polsek Mojoroto dan Koramil setempat. Sambil menunggu hasil uji sampel keluar, DKPP menyarankan agar sementara waktu lembu – lembu tersebut diisolasi alias diminta untuk tidak dikeluarkan dari kandang, hingga dinyatakan sembuh.
Terpisah, Kapolsek Mojoroto Kompol Mukhlason mengatakan, sejauh ini baru ada satu kasus dugaan suspek PMK di wilayah hukumnya. Pihaknya berkomitmen untuk membantu pemerintah daerah dalam menangani wabah penyakit yang semakin meluas ini.
“Kami menerima laporan mengenai dugaan kasus suspek PMK pada hewan sapi milik warga Kelurahan Bandar Lor ini. Kami sudah melakukan kontrol pengobatan hewan yang dilakukan oleh DKPP Kota Kediri bersama DKPP Provinsi Jawa Timur,” kata Kompol Mukhlason.
Sapi Suspek PMK Berasal dari Luar Kota Kediri
Lima ekor sapi yang diduga suspek PMK milik Nuriman, warga Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri ini ternyata berasal dari luar Kota Kediri. Pemilik membeli lembu-lembu tersebut dari daerah Kecamatan Grogol dan Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.
“Beliau (pemilik sapi) ini seorang pedagang sapi. Informasinya baru dapat sapi dari luar daerah. Sepertinya yang bersangkutan memang nyetok untuk persiapan menjelang Idul Adha. Mungkin harganya agak miring, kemudian dibelinya,” kata drh. Iham.
Saat transaksi pembelian, lembu-lembu tersebut dalam keadaan yang sehat. Kemudian oleh pemilik dirawat di kandang miliknya. Namun, beberapa hari kemudian sapi mulai menunjukkan gejala sakit dan tidak mau makan.
DKPP Kota Kediri, menurut drh. Iham, merasa kecolongan dengan temuan ini. Sebab, sejak kasus PMK mulai marak di Jawa Timur, Pemkot Kediri sudah mengambil beberapa kebijakan untuk membendung masuknya hewan ternak dari daerah wabah. Paling terakhir, Pemkot Kediri melakukan penutupan sementara terhadap seluruh pasar hewan.
Sampai hari ini, lebih dari 300 ekor sapi diduga suspek PMK di Kabupaten Kediri. Lembu-lembu tersebut tersebar di sejumlah wilayah kecamatan dengan tingkat kasus paling tinggi di Kecamatan Mojo dan Semen.

