Miliki Warisan Wastra Tenun Ikat, Ketua Dekranasda Kota Kediri Lakukan Upaya Untuk Mendorong Ekonomi

Kediri Dalam Berita | 20/04/2022

logo

Ketua TP PKK Kota Kediri mendorong semakin meningkatnya tenun ikat di Kota Kediri. (Diskominfo Kota Kediri.)
Ketua TP PKK Kota Kediri mendorong semakin meningkatnya tenun ikat di Kota Kediri. (Diskominfo Kota Kediri.)
 

 

AGTVnews.com - Kota Kediri miliki warisan wastra lokal yakni tenun ikat yang berada di Kelurahan Bandar Kidul. Tenun ikat menjadi salah satu andalan Kota Kediri.

Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda Kota Kediri Ferry Silviana Abdullah Abu Bakar memaparkan upaya-upaya yang dilakukan Dekranasda bersama Pemerintah Kota Kediri untuk mengembangkan UMKM wastra khas Kota Kediri tenun ikat ini.

"Wastra tenun ikat ini sudah ada sejak Indonesia belum merdeka. Terdapat kurang lebih 14 rumah industri tenun di Kelurahan Bandar Kidul," ujar wanita yang akrab disapa Bunda Fey ini.

Pemerintah Kota Kediri memiliki komitmen besar untuk mengembangkan tenun ikat.

Salah satunya dengan kebijakan melalui Peraturan Wali Kota dimana seluruh karyawan di Kota Kediri baik ASN atau swasta untuk mengenakan tenun ikat setiap hari kamis.

Selain itu, upaya lain untuk mengembangkan tenun ikat Kota Kediri ini dengan melakukan pembinaan kepada para pengrajin.

"Sebelum pandemi melanda berbagai event digelar sebagai upaya memperkenalkan tenun ikat Kota Kediri. Salah satunya Dhoho Street Fashion yang menjadi agenda tahunan. Selain itu juga ambil bagian dalam Jakarta Fashion Week dan Jogja Fashion Festival," ungkapnya.

Istri Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar ini menjelaskan di masa pandemi Covid-19 beberapa upaya juga dilakukan untuk menyelamatkan industri tenun ikat.

Diantaranya pemesanan masker bahan tenun ikat sekaligus upaya pendisiplinan protokol kesehatan pada masyarakat.

Baca Juga: Trailer pertama Thor: Love and Thunder, Ada Thor Versi Wanita!

Pandemi Covid-19 juga menjadi momentum yang tepat untuk membawa tenun ikat Kota Kediri go digital. Pemkot Kediri juga mendukung pengajuan Kekayaan Intelektual Komunal (KIK).

"Dampaknya omset penjualan di masa pandemi pun masih cukup aman. Untuk meningkatkan daya saing pemkot bersama PKK juga melakukan pelatihan diversifikasi produk tenun ikat sampai di level kelurahan melalui dana Prodamas," ucapnya.

 
 

"Selain itu promosi dan advokasi tenun ikat ke level yang lebih tinggi juga dilakukan. Hasilnya tenun ikat menjadi salah satu outfit yang harus digunakan ASN Pemprov Jatim," terangnya.

Bahkan untuk semakin mengenalkan tenun ikat, Pemkot Kediri memboyong alat tenun bukan mesin (ATBM) dalam berbagai ajang pameran. Salah satunya dalam International Handicraft (Inacraft). ATBM menjadi daya tarik para pengunjung.

Tujuannya agar calon pembeli dapat melihat langsung proses pembuatan tenun ikat. Dampaknya omset selama Inacraft kurang lebih 100 juta rupiah.

"Kreatifitas dan kolaborasi saya kira menjadi kunci. Fokus saya dari bidang ekonomi bagaimana tenun ikat Kota Kediri tidak akan hilang suatu hari nanti. Satu hal yang istimewa di Kota Kediri bahwa penenun di desa itu masih muda-muda. Ini yang menjadi suatu kelegaan saya dimana regenerasi bisa berjalan dengan baik. Harapan bahwa tenun ikat Kota Kediri akan saya temui 100 tahun lagi menjadi ada," imbuhnya.

Pemaparan tersebut disampaikan Bunda Fey dihadapan istri walikota dari daerah lain diantaranya Ketua TP PKK Kota Banjarbaru Vivi Mar'i Zubedi Aditya Mufti Ariffin dan Ketua TP PKK Kota Palu Diah Puspita Hadianto Rasyid.

Kegiatan ini dikemas dalam APEKSI Virtual Talk Show Peran Penting Istri Wali Kota dalam virtual talk show 'Peran Penting Istri Wali Kota', yang diselenggarakan oleh APEKSI