Kediri, koranmemo.com - Harga minyak goreng sawit kemasan yang kembali diserahkan pada mekanisme pasar, membuat pengusaha gorengan menyesuaikan diri.
Pengusaha gorengan harus mengakali produksinya agar tetap mendapatkan keuntungan dari melonjaknya harga minyak goreng kemasan.
Salah satu pengusaha gorengan Surya Adiputra, warga Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.
Kini, harga gorengan buatannya harus disesuaikan agar ongkos produksi tidak melebihi omset yang didapatkan.
Gorengan tahu walik yang menggunakan olahan daging ayam di dalamnya, harus diakali yaitu dengan mengurangi bahan baku.
“Tahu walik menggunakan adonan aci dengan bahan dasar daging ayam rencananya mau dihilangkan,” kata dia.
“Tapi, sekarang masih melakukan percobaan. Supaya nanti produk yang dijual rasanya tetap sama seperti sebelumnya,” kata dia.
Selain terbebani dengan naiknya harga minyak goreng, Surya Adiputra juga mengaku jika usahanya juga tertekan karena harga tahu.
Dikatakannya, ukuran tahu sekarang juga mengalami penyesuaian karena naiknya harga kedelai.
Pedagang tahu langganannya sekarang juga mengecilkan ukurannya agar tetap mendapatkan laba dari penjualan.
Sementara itu sebelumnya, pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 11 Tahun 2022 yang menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng sawit yang diatur dalam Permendag No.06 Tahun 2022 dinyatakan dicabut.
Mulai tanggal 16 Maret 2022, harga jual minyak goreng kemasan tidak lagi terikat HET Rp 13.500 dan Rp 14.000 perliter.
Sedangkan pemerintah hanya mengatur harga minyak goreng curah dengan HET baru sebesar Rp 14.000 perliter atau Rp 15.500 perkilogran.
Untuk mengurangi dampak kenaikan harga minyak kemasan di pasar, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Kediri membuat terobosan.
Disperdagin mengadakan program Minyak Goreng untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM).
“Itu sebagai upaya membantu pelaku usaha ditengah gejolak minyak goreng selama beberapa bulan terakhir,” kata Kepala Disperdagin, Tanto Wijohari.
Namun, kata dia, bantuan ini dibatasi hanya kepada 200 pelaku UMKM atau IKM saja.
Sebelum penyaluran, Disperdagin membuka pendaftaran dalam jaringan (Daring) dengan melampirkan beberapa persyaratan.
Jika terpilih, maka pelaku usaha berhak menerima 12 liter minyak goreng perorang dengan harga terjangkau dibawah Rp 20 ribu perliter.
Penyaluran dilakukan pada Jumat (18/3) kemarin di Kantor Disperdagin Kota Kediri.
Menurut Tanto, bantuan 12 liter minyak goreng sawit ini mencukupi produksi UMKM atau IKM selama beberapa hari kedepan.
Disamping itu, dengan program ini secara tidak langsung bisa menekan angka inflasi daerah dengan menurunkan harga makanan jadi menjelang Ramadan akhir Maret ini.