Pasien Covid-19 di Isoter BLK Kota Kediri Semakin Berkurang, Pemkot Harap Bisa Catat 0 Kasus

Kediri Dalam Berita | 07/03/2022

Tribunmadura.com

 
TribunMadura.com/Didik Mashudi
 
Petugas berseragam APD di Gedung BLK Kota Kediri, Minggu (11/7/2021). 
 

TRIBUNMADURA.COM, KEDIRI - Jumlah pasien Covid-19 yang menjalani perawatan di tempat isolasi terpusat (isoter) Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Jalan Himalaya, Kota Kediri, semakin berkurang.

Tercatat sejak 8 Februari - 5 Maret 2022, terdapat 54 pasien Covid-19 yang dirawat di tempat isoter.

Rinciannya, 39 pasien Covid-19 yang sudah pulang atau sembuh, 2 pasien dirujuk ke RS Kilisuci, dan 13 pasien saat ini masih menyelesaikan masa isolasi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri, Indun Munawaroh menjelaskan, pihaknya tidak mengalami kendala apapun selama proses isolasi.

Bahkan, kata dia, terjalin kerjasama yang baik antara pasien dengan tenaga kesehatan (nakes).

“Selama pasien dirawat di tempat isoter semuanya berjalan dengan baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," kata dia, Sabtu (5/3/2022).

"Pasien dirawat sesuai standar operasional prosedur (SOP), fasilitas di isoter juga memadai, tidak ada keluhan,” jelas Indun.

Sejak akhir Februari lalu, tidak ada tambahan pasien Covid-19 baru.

“Penurunnya grafik pasien ini bisa berpengaruh terhadap penurunan level PPKM di Kota Kediri,” ujarnya.

Dalam menentukan level situasi suatu wilayah, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi membandingkan dua hal, yakni level transmisi penularan dengan kapasitas respons sistem kesehatan di wilayah tersebut.

Setelah mendapatkan hasil perhitungan dua indikator tersebut, maka bisa menentukan level situasi pandemi di wilayah tersebut.

Indun berharap, Kota Kediri berhasil mencapai nol kasus Covid-19 serta pasien yang sedang dirawat di rumah sakit, tempat isoter, maupun isolasi mandiri agar kesehatannya dapat segera pulih.

“Untuk mencapai Kota Kediri nol kasus Covid-19 kami ingatkan kembali masyarakat agar selalu menjalankan protokol kesehatan (prokes) secara ketat," ucap dia.

"Apabila tidak ada kepentingan yang mendesak diharapkan untuk tetap di rumah saja,” jelasnya