Minat Baca di Kota Kediri Merosot Akibat Pandemi, Perpustakaan Didorong Beradaptasi ke Era Digital

Kediri Dalam Berita | 05/10/2021

Surya.co.id

 
surya/imam taufiq
 
Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar. 
 

SURYA.CO.ID, KOTA KEDIRI - Berdasarkan kajian indeks minat baca tahun 2019, minat baca masyarakat Kota Kediri tergolong dalam kategori sangat tinggi yaitu sebesar 83,9 persen.

Selanjutnya hasil survei indeks minat baca pada 2020 atau saat pandemi Covid-19, minat baca itu mengalami penurunan 73,3 persen yang masuk dalam kategori tinggi. Depresiasi sebesar 10,6 persen ini menunjukkan pengaruh pandemi Covid-19 terhadap minat baca masyarakat.

“Dalam survei juga didapatkan data pada dimensi alternatif sebesar 86,7 persen (sangat tinggi) yang diketahui bahwa masyarakat lebih banyak menggunakan gadget sebagai alternatif sarana membaca,” ungkap Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar saat membuka Webinar Literasi Transformasi Pustakawan Dalam Pingit Pandemi di SD Plus Rahmat, Senin (3/10/2021).

Dijelaskan Abu Bakar, ada dimensi yang perlu mendapat perhatian lebih. Yaitu dimensi akses dan budaya yang masing-masing masuk dalam kategori sedang. Inilah yang menjadi tanggung jawab bersama untuk mendorong literasi dan menumbuhkan minat baca masyarakat.

Pemkot Kediri mendukung penuh aktivitas taman baca yang diinisiasi oleh masyarakat. Melalui Prodamas, Pemkot Kediri memberikan kesempatan masing-masing RT untuk mengajukan usulan pengadaan sarana-prasarana taman baca di lingkungannya.

“Saya mengajak orangtua, guru dan komunitas literasi untuk menggencarkan aktivitas membaca mulai dari lingkungan rumah. Sehingga membaca buku bisa menjadi suatu kebiasaan sehari-hari,” ujar Mas Abu, sapaannya.

Ia mengatakan, pandemi Covid-19 yang telah melanda hampir dua tahun memang berdampak pada semua sektor. Tidak hanya sektor kesehatan dan ekonomi, namun juga mengubah pola pembelajaran baik untuk siswa, guru maupun orangtua.

Dampak paling besar dirasakan oleh siswa yang tidak bisa berinteraksi langsung dengan guru dan terbatasnya waktu pembelajaran.

“Anak-anak kurang optimal dalam memanfaatkan waktu luangnya. Mereka lebih suka berinteraksi dengan gadget. Padahal merekase harusnya bisa berlama-lama menjelajahi dunia dengan membaca buku,” ujarnya.

Pandemi Covid-19 juga membuat akses ke perpustakaan dibatasi padahal fungsinya sangat penting sebagai wahana pendidikan, penelitian, informasi dan rekreasi.

Mas Abu juga mengingatkan perpustakaan agar adaptif di mana gaya hidup masyarakat saat ini mulai berubah dan serba digital. Seperti halnya koran dan majalah yang banyak beralih ke media online, begitu juga buku.

Saat ini banyak aplikasi yang menyediakan layanan bacaan dengan format e-book seperti Wattpad, Libby, Google play books, dll.

“Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan sudah memberikan layanan digital. Masyarakat bisa mengakses layanan perpustakaan daerah, menggunakan aplikasi e-pusda Kota Kediri yang bisa diunduh melalui smartphone,” jelasnya.

Selain Wali Kota Kediri, narasumber dalam webinar adalah Santoso Mahargono, Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kota Malang serta Muhammad Hamim, Ketua Komunitas Slims Senayan Library Management System Kediri Raya.