Pembatik Berharap Ada Motif yang Bisa Dipatenkan untuk Kota Kediri

Kediri Dalam Berita | 04/10/2021

Kediri, koranmemo.com – Kasiana (71) salah seorang pengrajin batik asal Kota Kediri yang telah belasan tahun berkecimpung dalam pembuatan batik, masih belum menyerah untuk mencari motif batik khas Kota Kediri.

Itu merupakan harapan yang ingin ia wujudkan, sehingga Kota Kediri dapat memiliki motif batik khasnya sendiri.

Wanita yang juga pemilik Batik Wecono Asri ini mengatakan, Kota Kediri hingga saat ini masih belum ada motif batik yang khusus dan telah dipatenkan.

Ia sendiri telah membuat motif batik sebanyak lebih dari 50 buah yang terinspirasi dari fenomena ataupun keadaan yang ada di sekitar.

Motif-motif itu biasanya ia buat ketika dirinya bangun di pagi hari sekitar pukul 03.00 WIB, setelah melakukan ibadah. Pada waktu tersebut, ia akan duduk di mejanya dan mulai menggambarkan ide-ide yang muncul dipikirannya.

“Ada motif Topeng Panji, Dewi Kilisuci, Garuda Muka, Panji Galuh, Jembatan Brawijaya, Sekar Jagat Kediri, dan lain-lain,” ujarnya, Jumat (1/10/2021).

Ia menambahkan, ia dan kelompoknya sebelumnya juga telah mencoba untuk mengajukan motif agar bisa menjadi khas Kota Kediri. Namun upaya yang ia lakukan bersama kelompoknya itu masih belum membuahkan hasil.

Pada hari batik tahun ini yang jatuh pada Sabtu (2/10/2021), ia berharap ada bantuan dari pemerintah dalam memberikan dukungan agar ada motif yang bisa dipatenkan sebagai batik khas Kota Kediri.

“Kalau ada dukungan, saya pasti akan paling depan untuk mengajak perajin batik Kota Kediri untuk bersama-sama mewujudkan hal itu,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, batik merupakan budaya yang dimiliki oleh bangsa kita. Budaya leluhur yang telah diwariskan secara turun temurun ini harus dijaga dan diajarkan kepada generasi-generasi penerus.

Untuk itu, ia juga menerima orang yang ingin belajar membuat batik, di tempat kerjanya yang berada di Jalan Dandangan 1 No.154, Keluragan Dandangan, Kecamatan / Kota Kediri.

Tidak sedikit juga mahasiswa yang berasal dari berbagai universitas datang ke tempatnya untuk melakukan magang.

Kasiana bercerita, awalnya ia juga tidak terlalu mengerti tentang batik, meski ia sendiri memiki latar belakang di bidang mode. Ia sempat sekolah menjahit di Surabaya selama lebih dari satu tahun dan lulus pada tahun 1978.

Setelah lulus, ia kemudian membuka usahanya sendiri, saat itu ia sempat mempekerjakan 6 orang karyawan untuk memenuhi pesanannya yang tidak ada hentinya.

Ia sempat diminta berhenti menjahit oleh anaknya pada tahun 1996 setelah ia mengalami sakit parah karena kurang istirahat akibat memenuhi pesanan yang banyak.

Tidak ada kesibukan, membuatnya kurang bergairah dan seperti ada yang hilang dalam kehidupannya. Ia kemudian mulai mengikuti pelatihan mengenai batik dan mulai mempelajari batik pada tahun 2007.

Melihat ibunya mulai kembali mendapatkan keceriaannya, anak Kasiani akhirnya mengijinkannya untuk menekuni batik, dengan catatan ia tidak boleh bekerja hingga terlalu capek.

Pada tahun 2012 ia kemudian mendirikan Wecono Asri dan semakin serius dalam membuat batik.

Ketika ditanya apa yang membuatnya jatuh cinta dengan batik, ia mengatakan, batik merupakan budaya yang kita miliki, jangan sampai batik ini hilang atau diakui oleh orang lain.

Selain itu, ketika karya yang dibuat dipakai orang lain, terlebih dipakai oleh orang yang terkenal seperti pejabat, itu merupakan kebanggaan tersendiri