Kediri, koranmemo.com – Selama tiga bulan berturut-turut Kota Kediri mengalami deflasi. Jika dilihat selama tiga tahun kebelakang, deflasi selama tiga bulan ini baru pertama kali dialami. Penurunan daya beli selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4, ditengarai menjadi penyebab deflasi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri, Lilik Wibawati menjelaskan, deflasi terjadi dari Juni hingga Agustus 2021 kemarin. Tercatat tertinggi deflasi terjadi pada Juni dengan -0,10 persen, sementara Juli dan Agustus mencatatkan masing-masing -0,8 persen.
“Selama tiga bulan bahan makanan menjadi penekan inflasi di Kota Kediri. Jika dilihat dari kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, penurunan tertinggi terjadi pada Agustus dengan -0,76 persen. Sementara Juni minus -0,57 dan Juli -0,20,” katanya.
Kebijakan PPKM Level 4 yang membatasi kegiatan kerumunan di pasar tradisional dan modern berimbas pada penurunan ekonomi di daerah. Daya beli masyarakat yang turun menekan harga bahan makanan.
“Daging ayam ras selama tiga bulan terakhir masih dalam 10 besar penekan inflasi di Kota Kediri. Harganya turun setelah sempat naik pada momen Hari Raya Idulfitri kemarin,” katanya.
Selain itu penurunan harga cabai rawit juga mengakibatkan deflasi di Kota Kediri. Komoditas tersebut menjadi penekan inflasi peringkat 1 dengan catatan penurunan harga sebesar 28,82 persen. Banyaknya panen namun tak diimbangi dengan peningkatan daya beli mengakibatkan harganya semakin tertekan.
Sementara itu, petani cabai di Kelurahan Blabak, Agus Santoso mengatakan, di pasaran dijual dengan harga Rp 16 ribu sampai Rp 18 ribu perkilogram. “Kalau normal tidak ada kelangkaan biasanya dijual Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu perkilogram,” tutupnya.

