SURYA.CO.ID, KEDIRI - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang diubah menjadi PPKM Level 4 membawa perubahan signifikan cara berjualan pedagang pasar tradisional di Kota Kediri.
Sebelum ada PPKM, kegiatan berdagang masih dilakukan secara tradisional dengan bertatap muka langsung.
Pemberlakuan PPKM mengubah cara berdagang secara online melalui smartphone atau handphone (HP).
Sumiati (45) salah satu pedagang di Pasar Pahing, Kota Kediri mengaku membuka layanan online bagi pelanggannya yang membeli sayuran dan bumbu dapur.
"Layanan WA ini setelah ada PPKM, di mana ada pembatasan berjualan bagi pedagang dan masyarakat tetap di rumah. Selain itu pembeli yang datang ke pasar juga semakin berkurang," ungkap Sumiati, Kamis (12/8/2021).
Berjualan secara online telah mampu mengangkat omsetnya yang sempat anjlok di awal PPKM karena sepinya pembeli yang datang ke pasar
"Meski belum pulih, pembelian lewat WA sangat membantu pedagang dan pembeli," ungkapnya.
Sumiati juga mengakui ada trend konsumen yang memilih membeli lewat WA daripada datang ke pasar.
Apalagi beli di tempat atau lewat WA tak ada perbedaan harga.
"Kami siapkan kurir yang mengantar, sementara kami hanya melayani seputar Kota Kediri," jelasnya.
Cara berjualan pedagang pasar yang memanfaatkan teknologi gawai banyak ditemui di Pasar Setono Betek, Pasar Pahing, Pasar Banjaran dan Pasar Bandar.
Malahan sejumlah pedagang telah memasang poster dan banner berisikan informasi nama toko dan nomor HP.
Berbagai jenis barang yang bisa dipesan melalui nomor HP seperti ikan, daging ayam, daging sapi hingga sayuran dan bumbu dapur serta baju dan perabot rumah tangga.
Anik (40) pedagang sayur di Pasar Setono Betek membuka layanan online untuk menyiasati pemasukan agar tetap jalan. Sehingga sayuran yang menjadi jualannya cepat laku.
Malahan layanan yang diberikan selain bayar di tempat melalui kurir, pembeli bisa membayar lewat transfer bank. Termasuk melalui jasa antar ojek online.
Direktur PD Pasar Kota Kediri, Ihwan Yusuf menyampaikan, beberapa pedagang di Pasar Setono Betek dan Pasar Bandar telah mulai melakukan penjualan secara online.
“Kemajuan teknologi memang cukup menjadi solusi bagi pedagang pasar, terutama pada lapak pakaian. Kami juga mendorong pedagang lainnya untuk mencoba berjualan online,” ujarnya.
Upaya itu dilakukan supaya penjual tetap mendapatkan untung, meskipun para pelanggan saat ini memilih di rumah karena adanya PPKM. Selain itu, agar retribusi pasar juga tetap didapatkan.
aplikasi Belanja Instan dari Rumah (BI Imah) juga memberi kemudahan bagi pedagang yang masih menyesuaikan diri dengan fasilitas online untuk tetap mendapat pesanan.
Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar menjelaskan, Pemkot Kediri menghadirkan layanan Bi Imah untuk mencegah terjadinya panic buying.
Dengan BI Imah, warga Kota Kediri tidak perlu keluar rumah untuk berbelanja.
Kebijakan PPKM yang telah diperpanjang beberapa kali memang menekankan warga Kota Kediri untuk mengurangi mobilitas yang tidak perlu.
Ada 9 pasar tradisional di Kota Kediri di bawah naungan PD Pasar yang mengikuti kebijakan Pemkot Kediri mengenai PPKM untuk menutup tempat usaha non esensial.
Sementara Triyono Gani, Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam zoom meeting virtual Inovasi Keuangan Digital program webinar Kemitraan Jurnalis OJK Kediri menjelaskan, Pandemi Covid 19 menjadi batu loncatan yang luar biasa dan revolusioner karena telah mendorong percepatan finansial technologi (fintech) di masyarakat.
Pandemi Covid 19 juga mendorong perubahan perilaku.
Salah satunya masyarakat sudah terbiasa dengan work from home (WFH).
Sehingga setelah new normal akan ada kebiasaan baru tidak perlu office atau kantor.
"Ini juga terjadi di sektor jasa keuangan. Saya tidak pernah belanja e-commerce, biasa beli warung. Namun sekarang tidak seperti itu," ungkapnya.
Triyono mencontohkan, saat bertugas di luar kota masih bisa membelikan anak-anaknya melalui go food.
Sehingga ada kebiasaan baru yang terbentuk dengan bisnis model yang baru.
"Alhamdulillah lagi semua berbasis dari smartphone," jelasnya.
Triyono memprediksi bisnis yang akan berkembang di masa mendatang adalah yang berbasis telepon pintar. Termasuk salah satunya fintech.
"Saya orang yang lebih takut kehilangan handphone daripada dompet. Karena faktanya transaksi keuangan kita ada di handphone kita. Itulah fakta-fakta yang akan terjadi setelah Covid berakhir," ungkapnya.
Fintech sendiri merupakan perpaduan orang dari latar belakang bankir dan teknologi. Kemudian keduanya bergabung menjadi sebuah fintech.
Sehingga fintech merupakan masa depan finansial, karena perbankan di masa mendatang tidak akan seperti saat ini.
"Perbankan akan berubah, asuransi dan pasar modal juga bakal berubah. Perubahannya sekarang ini sedang berlangsung," jelasnya.
Meski begitu fintech juga tetap harus diawasi supaya tidak sampai mengakibatkan kerugian masyarakat.
"Fintech itu seperti memegang burung di tangan, kalau kita ketat memegangnya burungnya akan mati. Sementara kalau los memegang akan lepas, sehingga kita harus balance antara inovasi dan pengawasan," tambahnya.
Dikatakan, di OJK sangat menghargai proposal inovasi dengan syarat tidak sampai merugikan konsumen yang menjadi pertimbangan nomor satu.
Selain itu tidak melanggar peraturan, sehingga OJK harus hadir jangan sampai fintech datang untuk mengambil keuntungan sesaat kemudian pergi.
Namun Triyono tidak bisa mengantisipasi model ke depan yang akan masuk.
"Ke depan akan bertambah peraturannya yang menyesuaikan perkembangan di masyarakat," ujarnya.
Karena yang terjadi sekarang industri fintech yang berkembang dahulu kemudian diatur regulasinya. "Kita membuat peraturan sesuai dengan kebutuhan," tambahnya.
"Ke depan fintech di Indonesia diarahkan untuk meningkatkan inklusi keuangan dan mengarahkan berhubungan dengan UMKM atau retail bisnis," jelasnya.