Kembangkan Tenun Ikat Kediri Dengan Sistem Kemitraan Bangkitkan Perekonomian Ditengah Pandemi

Kediri Dalam Berita | 13/08/2021

logo

Tenun Ikat khas Kota Kediri sat ini menjadi produk andalan selain tahu (Linda Kusuma)

 

AGTVnews.com - Tenun Ikat Kota Kediri merupakan salah satu produk andalan yang menjadi ciri khas di Kota Kediri selain produk kuliner Tahu.

Warna dan corak yang tersendiri menjadikan kain tenun ikat Kota Kediri banyak dicari. Usaha rumahan ini mulai banyak dikembangkan warga.

Salah satunya adalah adanya kampung tenun di wilayah Bandar Kidul Kecamatan Mojoroto Kota Kediri.

Di wilayah ini sebagian besar warganya menggantungkan hidup dari hasil tenun ikat. Mereka rata-rata menggunakan alat tenun tradisional yakni alat tenun bukan mesin (ATBM).


Pernah di suatu masa, agar bisa melakukan produksi massal, alat tenun ini diganti dengan alat tenun mesin. Meski produksi menjadi meningkat namun, ciri khas tenun ikat Kediri menjadi hilang.

 

Namun lambat laun, para pengrajin yang tidak puas dengan hasil karya mereka mulai kembali menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Pun demikian halnya dengan pengrajin tenun ikat Kediri ‘Medali Mas’.

Usaha yang digawangi pasangan suami istri Latif Suwigya dan Siti Rukayah ini dimulai sejak Februari 1987.

Sebenarnya tahun-tahun sebelumnya, usaha tenun ikat ini sudah mulai berjalan, namun masih belum menemukan formula dan corak khas tersendiri.

Baru pada tahun 1987 pasangan ini berani melaunching usaha tenun ikat mereka.

Waktu yang terus berjalan, membuat usaha pasangan ini semakin maju. Dari hanya memiliki 2 mesin tenun ATBM, mereka bisa mengembangkan hingga 10 ATBM.

Sistem yang dipakai adalah bermitra.

Pasangan ini dengan sukarela mengajarkan kepada orang yang membutuhkan pekerjaan untuk bisa menenun. Jika sudah mampu menenun, maka mereka diminta mulai menenun dengan alat dan bahan langsung dari Medali Mas.

Cara ini dipakai mereka untuk membuka lapangan pekerjaan di daerahnya.

Tak Khawatir Jika Corak dan Model Dijiplak

Siti Rukayah sama sekali tidak khawatir jika ciri khas dari Medali Mas akan di jiplak untuk usaha tenun yang lain. Siti Rukayah berprinsip, jika memang sudah menjadi rejeki maka tidak akan kemana.

“Tidak apa-apa jika memang itu nanti dipakai untuk tempat tenun yang lain. Saya hanya berniat untuk memberikan pekerjaan. Jika sudah menjadi rejeki, maka pasti akan kembali kepada saya,” ucap Siti Rukayah kepada AGTVnews.com.

Usaha yang mulai menunjukkan perkembangan itu, nampaknya harus berhenti. Krisis moneter di tahun 1998 membuat sejumlah pengusaha tidak mampu beroperasional. Tidak adanya uang, membuat usaha yang baru bisa berdiri itu harus terpuruk.

Masyarakat pada waktu itu hanya bisa memikirkan bagaimana mereka bisa makan.

Untuk kebutuhan pakaian ataupun kebutuhan lain dikesampingkan terlebih dahulu. Otomatis kondisi ini memukul perekonomian bangsa.

Untuk menyambung hidup, Rukayah bahkan beralih profesi menjadi sales obat.

Tumpukan kain tenun ikat yang sudah jadi, hanya ditumpuk begitu saja. Karena kondisi yang tidak segera membaik, akhirnya Rukayah mencoba keberuntungan dengan menjadi seorang TKW di Arab Saudi.

Ingin Sejahterakan Warga Sekitar Agar Tak jadi 'Babu'

Dua tahun berada di Arab Saudi membuat Siti Rukayah bertekad bisa menyejahterakan tetangga dan keluarganya, agar tidak menjadi ‘babu’ di negeri orang.

“Saya kemudian pulang ke Indonesia. Pada saat itu, Presidennya Gus Dur. Beberapa sarung tenun yang masih tersisa, diborong semua oleh Gus Dur dan dibagikan ke sejumlah santri. Saya senang sekali. Saya berdoa, agar saya bisa menyejahterakan tetangga-tetangga saya,” urai Siti.

Akhirnya, disaat kondisi perekonomian mulai kembali menggeliat, Siti dan suaminya mencoba kembali memulai usaha kain tenun ikat Kediri.

Alat-alat tenun yang lama tidak terpakai, dibersihkan dan diperbaiki.

Sistem yang dipakai Siti masih sama, yakni pemberdayaan warga sekitar atau padat karya.

ATBM yang ada di pinjam pakai kepada tetangga, untuk memproduksi tenun ikat. Dalam produksi, Siti memberlakukan sistem target.

Satu hari satu kain. Bisa dikerjakan di rumah atau dikerjakan di tempat Siti. Ternyata cara ini bisa berjalan. Produksi kain justru meningkat. Dalam dua hari pekerja Siti bisa menghasilkan 3 lembar kain tenun ikat.

Pesanan semakin banyak yang datang. Dari sejumlah instansi dan juga sekolah-sekolah. Dengan sistem yang dibangun Siti masyarakat sekitar turut merasakan manfaatnya juga. Kehidupan perekonomian mereka mulai terangkat.

Yang awalnya hanya ibu rumah tangga biasa, kini bisa menghasilkan uang untuk membantu pendapatan suami. Dari yang sebelumnya tidak memiliki kendaraan, akhirnya mampu untuk membeli sepeda motor meski secara kredit.

Siti menyebut sistem yang dilakukan ini adalah sistem berbagi. Tidak perlu ada rasa iri dan dengki. Sehingga karyawan akan bisa bekerja dengan tenang, dan hasilnya juga maksimal.

“Tujuan saya adalah mengangkat perekonomian tetangga sekitar saya. Mereka ada yang minta jahitan, menenun dari rumah. Pokoknya bisa menghasilkan. Mereka cukup menyediakan tenaga saja. Benang, bahan dan alat kita semua yang memenuhi,” papar Siti.

Kondisi ini berjalan hingga di pertengahan 2019.

Tiba-tiba pandemi Covid-19 datang dan menghantam seluruh sektor di dunia. Segala aspek terdampak adanya Covid-19.

Di awal-awal pandemi, kondisi ini masih belum begitu dirasakan oleh Medali Mas. Hanya saja, beberapa pihak mulai membatalkan dan mempending pesanan kain tenun ikat di Medali Mas.

Jika ditotal ada ratusan juta uang yang mandeg karena pesanan kain yang terpending.
Kain-kain ini hanya ditumpuk saja menunggu yang memesan untuk mengambil.

“Saya tidak bisa apa-apa. Kalau kain ini akan dijual, siapa yang mau beli. Ini khan kain pesanan. Corak sudah seperti yang mereka inginkan. Ya saya hanya bisa berdoa saja. Saya minta agar saya bisa memberikan pekerjaan lagi bagi pekerja saya. Apalagi pada saat itu menjelang lebaran,” ucapnya.

Akhirnya tercetus ide untuk membuat masker dari kain tenun ikat. Dengan cara ini maka para pekerja bisa kembali mendapatkan pekerjaan. Pada saat itu, harga masker medis tengah mahal-mahalnya.

“Pak Wali itu, kemudian menanyakan kepada Dinas kesehatan, bagaimana layak atau tidak kain tenun menjadi masker. Ternyata sangat bisa. Apalagi masker kain tenun ini dilapisi juga dengan kain dan bisa dimasuki tisu,” paparnya.

Dari awal masker tenun inilah, akhirnya sedikit demi sedikit usaha kerajinan Medali Mas kembali bangkit.

Saat ini ada 75 ATBM Medali Mas yang tersebar di sejumlah mitra. Tidak hanya tetangga kanan kiri, namun mitra Medali Mas juga untuk santri di ponpes Mojo dan juga para warga Binaan di Lapas Kota Kediri.

Untuk menjaga kualitas kain tenun ikat Mendali Mas, proses pewarnaan benang dan pembuatan corak dilakukan langsung oleh Siti Rukayah dan suaminya.

Para pekerja hanya menenun sesuai dengan corak dan pola yang dibuat.

 

Kendala Modal Diatasi Dengan Pinjaman Kredit Perbankan


Seperti usaha-usaha pada umumnya, modal juga menjadi kendala.

Siti pun mengajukan pinjaman kepada pihak Perbankan. Saat ini Medali Mas menjadi salah satu mitra UMKM Padat Karya Bank BNI

“Medali Mas ini merupakan salah satu mitra dari BNI untuk UMKM Padat karya. Survey yang kita lakukan, kemudian cash flow dari perusahaan kita lihat juga. Dan akhirnya mendapatkan bantuan pinjaman dari Pemerintah berupa KUR,” jelas Branch Manager BNI Kediri, Enricco Annas.

Saat ini Medali Mas sudah berkembang cukup pesat. Usaha ini juga melakukan kerja bareng dengan usaha travel perjalanan dan juga desainer kondang sekelas Ivan Gunawan dan juga Didit Maulana.


Siti Rukayah berharap, usahanya ini bisa terus berjalan dan bisa menjadi penghidupan bagi ratusan pekerjanya.

Total saat ini ada 350 pekerja di Medali Mas dengan pendapatan bersih satu bulan bisa mencapai Rp 80 juta.